Jumat, 25 Maret 2011

Definisi Kekayaan

Menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya "Cashflow Quadrant", kekayaan adalah jumlah hari dimana Anda bisa bertahan tanpa bekerja secara fisik (atau tanpa siapapun dalam keluarga Anda bekerja secara fisik) dan tetap mempertahankan tingkat kehidupan Anda.

Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan Anda adalah $ 1.000 perbulan, dan jika Anda mempunyai tabungan sebesar $ 3.000 maka kekayaan Anda adalah sekitar 3 bulan atau 90 hari. Kekayaan diukur dalam waktu, bukan dolar (jumlah uang). Orang dikatakan kaya jika penghasilan dari investasinya lebih besar daripada pengeluaran bulanannya.

Jadi, yang penting bukanlah berapa banyak uang yang Anda hasilkan, tetapi berapa banyak uang yang Anda simpan dan berapa lama uang itu bekerja untuk Anda. Banyak orang yang menghasilkan banyak uang, tapi semua uang mereka masuk kedalam kolom pengeluaran. Setiap kali memperoleh tambahan sedikit uang, mereka pergi berbelanja. Mereka membeli rumah atau mobil baru, yang menimbulkan utang jangka panjang atau lebih banyak kerja keras. Uang mengalir keluar begitu cepat dan tak ada yang disisakan untuk dimasukkan kedalam kolom aset.

Keuangan "Garis Merah"

Dalam dunia mobil ada pepatah tentang "menjalankan mesin sebatas garis merah". Garis merah berarti pedal gas ditekan sedemikian rupa sehingga perputaran mesin mobil berada sedekat mungkin dengan garis merah, atau kecepatan maksimum yang bisa dipertahankan mesin mobil tanpa meledak.

Dalam hal keuangan pribadi, ada banyak orang, kaya dan miskin, yang terus menerus beroperasi pada "garis merah" keuangan. Tak peduli berapa banyak pun uang yang dihasilkan, mereka membelanjakannya secepat uang itu datang. Masalahnya, jika Anda mengoperasikan mesin mobil di garis merah, rentang hidup mesin itu jadi lebih pendek. Hal yang sama berlaku dengan mengoperasikan keuangan Anda di "garis merah".

Beberapa dokter medis mengatakan bahwa masalah utama yang mereka lihat pada zaman sekarang adalah stres yang disebabkan bekerja keras dan tidak pernah mempunyai uang cukup. Ada yang mengatakan bahwa penyebab utama gangguan kesehatan adalah sesuatu yang ia sebut sebagai "kanker dompet" (atau kanker = kantong kering).

Uang Menghasilkan Uang

Tak peduli berapa banyak uang yang dihasilkan orang, pada akhirnya mereka harus memasukkan sejumlah tertentu ke dalam kuadran "I" (Investor). Kuadran ini secara khusus menangani gagasan uang menghasilkan uang. Atau gagasan bahwa uang Anda bekerja sehingga Anda tidak perlu bekerja.***

Sumber: Robert T. Kiyosaki, 2005, The Cashflow Quadrant, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 48-49.

Kamis, 10 Maret 2011

Investasi Bukan Tergantung Pendapatan

Sebenarnya setiap orang dapat berinvestasi. Tidak peduli berapa pun penghasilannya. Sayangnya, hingga kini masih banyak yang beranggapan berinvestasi di kala ada uang sisa di kantong. Padahal, investasi seharusnya dialokasikan terlebih dahulu, bukan menunggu sisa pendapatan. Ini seiring dengan pepatah "Pay yourself first".

Hal yang penting dalam investasi adalah berapa jumlah yang dialokasikan, bukan berapa jumlah pendapatan seseorang. Baik orang itu adalah pegawai negeri, karyawan swasta, maupun orang yang sudah berduit.


Kebanyakan orang "ngeri" ketika mendengar kata investasi. "Ah, penghasilan masih segini mau investasi", "belum ada sisa untuk investasi", atau "harus sedia berapa puluh juta untuk investasi". Ungkapan seperti itu sering terdengar. Masih banyak orang mengira berinvestasi haruslah memiliki pendapatan besar atau harus mengalokasikan dana dalam jumlah besar.

Pemikiran seperti inilah yang membuat banyak orang tidak mau mulai menata masa depan finansialnya, akhirnya hanya mengeluh tidak dapat mencukupi kebutuhan dan mulai menyalahkan pihak lain. Padahal, setiap individu bertanggung jawab atas masa depannya, termasuk masa depan finansialnya, bukan orang lain atau perusahaan tempatnya bekerja.

Sebenarnya, beragam instrumen investasi dapat dijadikan sarana mencapai tujuan finansial kita. Mulai investasi reksa dana yang dimulai dari Rp 100.000 hingga investasi yang canggih dan rumit seperti transaksi derivatif di pasar komoditas dan memberikan uang banyak seperti investasi pada properti.

"Saya berinvestasi emas sejak tahun 2006 ketika membelikan emas kawin untuk istri saya Waktu itu satu gram seharga Rp 186.000," ujar Deden Wahyu (35), seorang karyawan swasta di Jakarta. Sekarang harga emas lebih dari Rp 300.000 per gramnya.

Dia membeli emas di PT Aneka Tambang, Pulogadung. Dimulai dari membeli emas sebesar 10 gram, investasi emasnya terus bertambah. "Kalau membeli di Antam ada sertifikat, menjualnya jadi tidak sulit, jika kepepet dapat digadaikan di Pegadaian. Emas merupakan investasi baik untuk jangka panjang," ujarnya lagi.

Deden juga mengatakan, investasi emas dalam bentuk lempengan lebih menguntungkan ketimbang perhiasan karena, kalau dijual kembali, emas perhiasan akan terpotong biaya pembuatan.

Lain pula dengan Marco. Pria ini sudah makan asam garam dalam berinvestasi saham di bursa saham sejak 1996. Dia berinvestasi saham dengan aktif memperjualbelikan sahamnya setiap hari. "Kalau sedang ramai, saya berada di depan komputer memerhatikan pergerakan saham. Ya, memang kadang rugi juga," ujarnya. Dia tertarik berinvestasi saham karena keuntungannya menjanjikan meskipun risiko keragiannya besar.

Dia sempat merugi sebesar Rp 120 juta ketika terjadi guncangan di bursa pada tahun 2008. Meski demikian, dia tidak kapok karena hasil yang menjanjikan.

Sementara itu, Maya Harso, seorang karyawati swasta, memilih berinvestasi pada reksa dana dengan cara autodebet agar dapat berinvestasi teratur setiap bulannya. Sidik, karyawan swasta, nekat meminjam uang ke bank untuk membuat rumah kontrakan. "Kalau ada rezeki, saya menabung besi. Saya tidak ingin sengsara pada saat pensiun nanti," katanya.

Bukan tergantung pendapatan

Kurangnya pengetahuan mengenai perencanaan keuangan pribadi, termasuk soal investasi, juga menjadi salah satu kendala seseorang dalam menata sisi finansialnya. Banyak orang beranggapan akan mulai menabung atau berinvestasi nanti jika pendapatannya sudah besar. Namun sebenarnya, semakin besar pendapatan, semakin besar pula pengeluaran kita. Contohnya, dengan pendapatan Rp 1 juta per bulan, seorang karyawan cukup naik angkutan umum ke kantor karena biayanya murah.

Ketika pendapatan naik dan dia sanggup mencicil sepeda motor, pengeluarannya akan bertambah untuk membeli bensin, oli, perawatan sepeda motor, dan lainnya. Ketika gajinya semakin besar, keinginan untuk membeli mobil muncul. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan pun bertambah.

Berbagai cara memang dapat dilakukan untuk memperoleh masa depan keuangan yang lebih cerah. Masa depan tersebut tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan bertindak untuk memulai investasi.

Berinvestasi sebesar Rp 100.000 per bulan secara teratur setiap bulan selama 20 tahun dengan imbal hasil 25 persen sudah dapat mengumpulkan uang sebesar Rp 1 miliar Iho. Kalau uang yang disisihkan naik menjadi Rp 500.000 per bulan, dana sebesar Rp 1 miliar dapat dicapai dalam waktu 15 tahun, dengan asumsi tingkat imbal hasil sebesar 25 persen juga.

Jadi, pilih mana: mulai berinvestasi teratur atau selalu mengeluh tidak dapat memenuhi berbagai kebutuhan? (Joice Tauris Santi)

Editor: Erlangga Djumena
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/03/01/11574337/Investasi.Bukan.Tergantung.Pendapatan

Bagaimana Memulai Investasi?

Saya suka membaca iklan di Kompas tentang pelatihan investasi Option, dan tertarik untuk mencari tahu dan mengembangkan uang di investasi jenis ini. Apakah jenis investasi ini menjanjikan dan memang menguntungkan seperti iklan-iklan yang saya baca? Saya ingin mendapatkan return yang besar dalam waktu tidak terlalu lama. Tapi saya juga ingin berinvestasi di tempat yang aman. Tolong sarannya. - Bernadette, Jakarta.


Sebelum menjawab, saya ingin bertanya dahulu. Apakah Anda sudah memiliki portofolio investasi, seperti reksa dana atau saham?
Bila belum, saya sarankan silakan koleksi terlebih dulu instrumen investasi tersebut karena Option adalah jenis investasi turunan dari saham. Sebenarnya, dapat saya katakan, bahwa Option bukanlah sebuah investasi karena bersifat diperdagangkan (trading) dalam jangka pendek. Lalu dalam setiap transaksi tersebut, ada pihak yang mendapatkan keuntungan dan juga mengalami kerugian. Option merupakan investasi derivatif.

Saya sendiri sebagai financial planner selalu menganjurkan klien untuk melakukan dan mengoleksi investasi reksa dana, saham, properti, dan logam mulia terlebih dulu sebelum mencoba investasi lainnya. Sebab, masih banyak jenis investasi yang bisa dijadikan kendaraan mencapai tujuan keuangan kita.

Menurut Robert T Kiyosaki dalam bukunya Conspiracy of The Rich, derivatif adalah "senjata kehancuran massal" dan salah satu alasan kita berada dalam krisis keuangan.

Saran saya, jangan memasuki sebuah jenis investasi yang rumit dan kompleks untuk dipahami. Sebab, semakin rumit investasi maka makin mudah akan kehilangan uang di sana.

Kembali ke persoalan Anda, Kiyosaki menegaskan, "Ingat, salah satu tujuan industri keuangan adalah membuat orang bingung." Jadi, sebaiknya hindari investasi yang tidak Anda pahami.

"Pay Yourself First Concept"
Apakah selama ini Anda tidak mampu menabung dan berinvestasi demi masa depan yang cemerlang dan mandiri? Apakah gaji ternyata tak bersisa (tidak cukup) untuk memampukan Anda memiliki tabungan atau investasi? Bila jawabannya "ya", berarti Anda menjalankan konsep keuangan yang kuno dan keliru. Tidak perlu bersedih karena Anda tidak sendiri.

Mungkin selama ini konsep menabung Anda adalah di akhir bulan. Ketika ada uang sisa dari belanja kebutuhan diri dan bulanan baru Anda menabung. Namun, bila ternyata di akhir bulan uang tidak bersisa, malah defisit, maka Anda pun melewatkan menabung di bulan itu.

Cara tersebut tidak akan membuat kaya. Sekarang cobalah untuk mulai menggunakan konsep baru, pay yourself first at 20 percent. Maksudnya adalah menyisihkan terlebih dahulu bagi masa depan di muka sebesar 20 persen sebelum membelanjakan untuk kebutuhan lain dan keperluan biaya bulanan.

Konsep baru: Income (pendapatan) - Saving (masa depan) = Expenses (kebutuhan hari ini)

Mengapa 20 persen?
Selama ini banyak yang menganjurkan bahwa cukup menabung atau menyisihkan sebesar 10 persen saja. Namun, menurut saya angka ini sangat tidak memadai. Angka ini berasal dari standar luar negeri yang angka inflasi mereka berkisar antara 3-5 persen per tahun. Dengan demikian, menabung atau berinvestasi sebesar 10 persen atau sama dengan 2 kali angka investasi, jadi sudah dianggap memadai. Sedangkan angka inflasi di Indonesia, sebesar 8-10 persen (padahal inflasi riil di pasar bisa saja lebih dari itu) sehingga saya anjurkan untuk memakai angka 20 persen untuk mengamankan dan memastikan masa depan Anda sendiri.

Mulailah dari 1 persen
Bila Anda sulit untuk menyisihkan langsung pada angka 20 persen maka mulailah menyisihkan dari angka 1 atau 2 persen pada bulan pertama, dan kemudian tambahkan angka yang sama pada bulan berikut dan seterusnya. Sehingga pada bulan ke-10 sampai ke-20 angka tersebut sudah tercapai.

Kalahkan diri Anda
Bila mampu mendisiplinkan diri dan mengalahkan keinginan-keinginan yang kurang produktif untuk melakukan konsep ini maka Anda akan sangat mudah mencapai berbagai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Memang sangat sulit dan mungkin paling sulit untuk mengalahkan diri sendiri. Namun percayalah, bila mampu mengalahkan diri sendiri maka dunia akan mudah Anda taklukkan.
Freddy Pieloor, CFP/Majalah Chic)
Editor: Nadia Felicia
Sumber: http://female.kompas.com/read/2010/05/26/19295625/bagaimana.memulai.investasi

Menabung Takkan Cukup, Mulailah Berinvestasi

Jika Anda dan suami saat ini memikirkan untuk merencanakan dana pendidikan untuk anak atau dana pensiun, cara apa yang Anda pilih? Menabung atau investasi?

Ambil saja contoh, rencana biaya pendidikan perguruan tinggi satu anak dalam periode 18 tahun mendatang. Karena biaya kuliah selalu naik akibat inflasi, Anda perlu menyisihkan Rp 3,5 hingga Rp 6 juta per bulan dalam bentuk tabungan. Biaya ini wajib dikeluarkan dari penghasilan Anda dan suami, di luar pengeluaran rutin lainnya. Coba kalkulasi, apakah Anda dan suami memiliki kemampuan ini?


"Menabung tidak akan cukup karena adanya inflasi. Solusinya adalah investasi dengan mengambil risiko jangka panjang, di atas 10 tahun," papar perencana keuangan Ligwina Hananto, saat talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" yang diadakan tabloid Kontan beberapa waktu lalu.

Ligwina menegaskan, menabung bisa dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek, empat tahun. Misalnya untuk persiapan sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun jika sudah menyangkut pendidikan tinggi, dibutuhkan dana yang lebih besar, dengan memperhitungkan tingkat inflasi setiap tahunnya.

"Inflasi biaya pendidikan tingkat TK-SMA bisa mencapai 20 persen per tahun. Inflasi tingkat perguruan tinggi rata-rata naik 15 persen per tahun. Sekalipun ada sekolah yang tingkat inflasinya rendah, namun uang pangkal tetap tinggi," jelas Ligwina.

Inflasi menjadi pertimbangan utama mengapa investasi menjadi solusi keuangan kelaurga. Hal ini juga berlaku pada persiapan dana pensiun. Karena jika Anda mengandalkan tabungan untuk mendapatkan dana pensiun 25 - 35 tahun mendatang, maka diperlukan Rp 75 juta - Rp 135 juta per bulan. Jumlah ini terlalu besar untuk tabungan, bukan? Rasanya gaji pegawai biasa tak mencukupi kebutuhan ini.

"Jika berusia 25 tahun, dengan berinvestasi Rp 587.000 per bulan Anda mempersiapkan dana pensiun lebih mudah. Untuk usia 35 tahun, Anda bisa berinvestasi Rp 2 juta per bulan. Keduanya mendapatkan target hasil investasi yang sama sebesar 25 persen per tahunnya," ungkap Ligwina, menjelaskan bagaimana investasi memberikan solusi keuangan lebih meringankan dan menguntungkan dibandingkan menabung untuk dana pensiun.

Berinvestasi memang berisiko, namun tegas Ligwina, risiko tidak berinvestasi lebih besar daripada investasi itu sendiri. Risiko, menurutnya, tidak dapat 100 persen dihindari namun bisa diatur. Karenanya ambil risiko jangka panjang, tambahnya.

Investasi sangat bisa diukur, dari tujuannya, risikonya, dan hasil investasinya. Karenanya tujuan Anda ingin berinvestasi menjadi penting. Tetapkan tujuan sekarang juga, buatlah perencanaan keuangan yang matang, dan pilih investasi yang tepat, jika tak ingin uang Anda tak bernilai di masa depan.

WAF
Editor: Dini
Sumber: http://female.kompas.com/read/2010/08/18/13144440/menabung.takkan.cukup.mulailah.berinvestasi

Rabu, 30 April 2008

Pengertian Investasi

Oleh: Suprapto Estede

Beberapa di antara definisi atau pengertian “investasi” adalah sebagai berikut:

1. Jack Clark Francis dalam bukunya Investment: analysis and management menulis:
“An investment is a commitment of money that is expected to generate of additional money.”

2. Donald E. Fischer dan Ronald J. Jordan dalam bukunya Security Analysis and Portfolio Management :
“An investment is a commitment of funds made in the expectation of some positive rate of return.”
3. Kamaruddin Ahmad dalam bukunya Dasar-dasar Manajemen Investasi dan Portofolio merumuskan definisi investasi:
“Investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tersebut.”

Senin, 28 April 2008

Langkah-Langkah Investasi

Langkah 1: Pahami Tujuan dan Sumberdaya Investasi Sendiri
Sebelum menginvestasikan dana yang dimiliki, pemodal harus memahami tujuan investasinya. Apakah mengharapkan pendapatan investasi yang terus menerus sejak saat investasi, atau pada masa yang akan datang, baik untuk masa tua atau biaya pendidikan, bahkan mengharapkan pertambahan nilai. Selain itu, pemodal juga harus memahami sumberdaya investasi yang dimilikinya atau yang dapat diharapkan.

Langkah 2: Kenali Profil Risiko
Setiap potensi hasil investasi mempunyai potensi risiko yang berimbang. Kemampuan mengatasi risiko dan perilaku menghadapi risiko pada setiap orang tidak selalu sama, tergantung dari kemampuan memperoleh penghasilan, beban atau tanggung jawab yang harus dihadapi, pengalaman menanggung risiko, atau bahkan usia dan impian pola hidup di hari tua. Kemampuan mengatasi risiko dan perilaku menghadapi risiko akan menentukan profil risiko seseorang dalam spektrum antara kutup “pengambilan risiko” sampai kutup “penghindaran risiko”.

Langkah 3: Tentukan Jangka Waktu Investasi
Hasil investasi sangat tergantung pada jangka waktu investasi. Yaitu jarak waktu sejak pemodal menanamkan investasi sampai saat pemodal mengambil kembali modal investasinya untuk kepentingan lain di luar investasi. Istilah jangka pendek, menengah dan panjang belum tentu sama bagi semua orang.

Langkah 4: Pelajari Alternatif Sarana Investasi yang Tersedia
Setelah memahami tujuan investasi, profil risiko, dan jangka waktu investasi, pemodal dapat memulai mempelajari alternatif sarana investasi yang tersedia. Untuk itu, calon investor sebaiknya mencari informasi yang selengkap-lengkapnya (bukan sebanyak-banyaknya) dari sudut pandang potensi hasil investasi, syarat dan risiko investasi, serta jangka waktu investasi. Sarana dapat terdiri dari elemen harta fisik, instrumen kepemilikan atas usaha (ekuitas), instrumen kepemilikan dana bersama (reksa dana), instrumen utang yang memberikan pendapatan tetap, dan instrumen simpanan uang atau pasar uang.

Langkah 5: Pahami Risiko Investasi yang Berkaitan
Pahami risiko yang berkaitan dengan alternatif sarana investasi tersebut, yang dapat terdiri dari risiko likuiditas, ketidakpastian hasil, kehilangan hasil, penurunan nilai investasi, sampai risiko hilangnya modal investasi tersebut.

Langkah 6: Tentukan Strategi Investasi
Dengan memahami tujuan investasi, profil risiko dan jangka waktu investasi di satu pihak, serta sarana investasi, potensi hasil dan risiko investasi di pihak lain, maka investor dapat menentukan strategi investasinya serta tolok ukur keberhasilan investasi (bench-mark). Perlu diingat dua kunci utama penentuan strategi investasi: Pertama, hasil investasi masa lalu bukanlah jaminan atas hasil investasi di masa mendatang. Kedua, pemodal harus menentukan titik keseimbangan antara keserakahan (greed) dan ketakutan (fear).

Langkah 7: Manfaatkan Jasa Profesional
Menentukan strategi investasi bukanlah hal mudah. Karena itu disarankan untuk memanfaatkan jasa profesional dari penasehat investasi. Unsur yang paling penting dalam memilih penasehat investasi yang tepat bukanlah ijin lisensi atau penampilan fisik daripada pemberi jasa. Tetapi apakah pemberi jasa itu memahami kebutuhan kita dan dapat meningkatkan keyakinan kita dalam mengambil langkah investasi.

Sumber: Kompas, Senin, 12 Agustus 1996 halaman 18.

Selasa, 22 April 2008

Manajemen Investasi

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Manajemen investasi adalah manajemen profesional yang mengelola beragam sekuritas atau surat berharga seperti saham, obligasi dan aset lainnya seperti properti dengan tujuan untuk mencapai target investasi yang menguntungkan bagi investor. Investor tersebut dapat berupa institusi ( perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan dll) ataupun dapat juga merupakan investor perorangan, dimana sarana yang digunakan biasanya berupa kontrak investasi atau yang umumnya digunakan adalah berupa kontrak investasi kolektif (KIK) seperti reksadana.

Lingkup jasa pelayanan manajemen investasi adalah termasuk melakukan analisa keuangan, pemilihan aset, pemilihan saham, implementasi perencanaan serta melakukan pemantauan terhadap investasi.

Diluar industri keuangan, terminologi "manajemen investasi merujuk pada investasi lainnya selain daripada investasi dibidang keuangan seperti misalnya proyek, merek, paten dan banyak lainnya selain daripada saham dan obligasi.

Manajemen investasi merupakan suatu industri global yang sangat besar serta memegang peran penting dalam pengelolaan triliunan dollar, euro, pound dan yen.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_investasi)